16 April 2012

Episode pingsan

Dalam hidup saya sampai hari ini saya hanya pernah merasakan pingsan dua kali,  ooo..bukan pingsan tapi hampir pingsan dan saya berharap ttidak akan terulang lagi. Kali pertama saat masih SMP, itu adalah hari sabtu, saya ingat harinya karena saat itu saya memakai baju pramuka, hujan, baju basah akhirnya masuk angin dan ketika berjalan menuju UKS badan saya  terasa ringan sekali…suinggggg serasa terbang, yang saya ingat saya sudah berada di atas meja guru dan mencium minyak kayu putih atau sesuatu yang menyengat hidung saya, ketika kesadaran saya mulai pulih saya baru tahu seperti itulah rasanya pingsan dan dalam hati saya tidak mau lagi karena itu sungguh tidak enak.
Tapi ternyata keinginan hanya tinggal keinginan, pagi ini kejadian itu terulang lagi dan terjadi dikereta saat berangkat kerja. Iya dikereta yang penuh sesak itu, badan saya limbung, kepala terasa ringan sekali, badan gemetar, keringat dingin keluar, kaki lemas dan kesadaran menghilang. Untungnya ada mba-mba baik hati yang memberikan tempat duduknya. Awalnya saya mengira mba itu akan turun kemudian saya melihat kursi kosong tapi tak ada satu orang pun yang mendekatinya, saat itu saya berpikir agak lebay memang karena saya bepikir Tuhan telah menghentikan orang-orang yang ada disekitar saya dan hanya saya yang bisa bergerak ke kursi itu padahal sebenarnya semua orang disekitar saya tahu kalau saya akan pingsan, hanya saya yang tidak menyadari kalau saya mau pingsan.
Ketika  duduk saya baru sadar bahwa saya hampir pingsan dan kehilangan kesadaran, karena tidak sadar bahwa tas saya terlepas dari tangan. Ketika kesadaran mulai ada keringat dingin mengucur membasahi seluruh pakaian, badan gemetar, mual & rasanya sangattttt tidak enak, perut saya sakit dan yang terpikir saat itu adalah bagaimana kalau nanti melahirkan kalau baru sakit datang bulan saja saya sudah seperti ini. Iya hari ini adalah hari pertama saya menstruasi, ah...memalukan, biasanya tidak seperti ini mungkin karena saya juga sedang masuk angin akhirnya tubuh saya ambruk. Lagi-lagi karena masuk angin & sialnya kereta itu terasa dinginnnnnnnnnn sekali padahal mungkin untuk penumpang lain biasa saja.
Ketika saya duduk dan memulihkan kesadaran juga tenaga ada seorang ibu yang baik sekali, dia menawarkan minyak kayu putih dan coklat kurma nya untuk saya, membalurkan minyak kayu putih ke punggung saya dan memijatnya, siapapun ibu itu semoga Allah membalas kebaikannya.
Akhirnya sampailah saya di stasiun gambir, sembari mengucapkan terimakasih pada ibu itu saya pun keluar dari kereta dan duduk di stasiun sambil menghadap matahari. Dan yang saya tidak mengerti kenapa matahari pagi itu tidak bisa menghangatkan tubuh saya padahal saya menghadapinya. Berjemur selama dua puluh menit tetap membuat tubuh tidak merasa hangat. Saya berpikir kalau saya kekantor pasti akan lebih kedinginan lagi karena AC nya AC sentral, akhirnya dengan tenaga yang masih tersisa saya pindah peron dan kembali pulang. Dan parahnya saya belum mengucapkan terima kasih pada mba-mba yang memberikan tempat duduk itu, maaf ya mba J
Sangat tidak menyenangkan berada dalam keadaan seperti itu, badan lemas, mata gelap, gemetar, mual, keringat dingin dan tidak bertenaga, bahkan untuk mengabiskan coklat yang kecilpun saya tidak punya tenaga untuk mengantarkan coklat ke mulut, itulah sebabnya saya paling tidak suka sakit. Kalau ada orang-orang diluar sana fobia dengan ketinggian, kecoa, tikus, ular bahkan kerupuk saya mengidap fobia sakit. Karena saya takut sakit.
Yah…memang sih ada yang bilang kalau kita sakit berarti Allah sedang mengingatkan kita, tapi kalau saya boleh memilih saya tidak mau di ingatkan dengan cara seperti itu, mungkin dengan hmm….melihat orang yang lagi sakit aja kali ya hehe….
Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada saya, orang tua saya, orang-orang terdekat saya dan orang-orang yang selalu membantu orang lain, seperti mba-mba yang memberikan tempat duduknya dan seorang ibu yang akhirnya memberikan minyak kayu putihnya untuk saya. Amin ….

08 November 2011

Episode hari ini

Hari ini 08 November 2011, sebuah hari dimana episode hidup saya kembali terukir secara manis. Berkat kebaikan dan kasih sayang Nya saya dapat melewati hari ini dengan banyak kemudahan dan kelancaran. Hari penentuan setelah tiga tahun #yang normalnya dua tahun menjalani perkuliahan akhirnya datang juga, dan Alhamdulilah semua berjalan seperti yang saya inginkan. Dosen penguji yang baik, pertanyaan sidang yang tidak terlalu sulit bahkan justru banyak tertawa diruang sidang. Doa saya kembali dikabulkan oleh-Nya, terima kasih Allah, Engkau selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk umat Mu.

Saya ingat betul hari-hari pertama saya menjalani kuliah di hari sabtu dan minggu, rasanya begitu sangat berat, ketika teman-teman yang lain istirahat dirumah, berkumpul dengan keluarga & teman-teman, merencanakan sesuatu yang menyenangkan, saya justru harus masuk kuliah dan berkonsentrasi dikelas. Tak hanya itu saja ketika teman-teman yang lain berbelanja saat sudah gajian, pergi ke mall, jajan ini-itu saya hanya bisa melihat dan menonton dan seperti ada suara yang mengingatkan saya dengan sebuah kalimat "ingat bayar kuliah". Memang sesekali saya ikut melakukan kegiatan itu tapi lagi-lagi kalimat itu menyadarkan saya.

Tapi akhirnya semua pengorbanan waktu, materi, tenaga, pikiran dan segalanya terbayar dihari ini. Inilah arti dari sebuah peribahasa "berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian", saya begitu merasakan arti peribahasa ini, bagaimana tidak dua minggu sebelum hari raya Idul Fitri saya mendapat kabar bahwa sang dosen akan resign dari kampus dan akan menetap di Balikpapan, akhirnya dengan waktu yang begitu sempit saya berusaha menyelesaikan skripsi saya dan Alhamdulilah semua nya selesai satu hari sebelum hari raya Idul Fitri dan sebelum sang dosen pergi

Tak hanya itu saja cerita indahnya, ketika satu hari menjelang hari raya Idul Fitri sekitar jam 8 malam saya masih berada disekitar daerah bintaro sepulang dari rumah dosen, berbuka puasa dirumah dosen yang mana dosen saya adalah non muslim, untunglah sang dosen pengertian, kami diberikan makanan berbuka meskipun hanya dengan sirup dan kue kering. Saya juga masih ingat betul ketika saya dan teman-teman yang lain mencari alamat sang dosen, mungkin jika saat itu lagu Ayu Ting-ting sudah booming, saya dan teman-teman satu bimbingan akan bernyanyi "kesana-kemari membawa alamat".

Sayang sang dosen telah pergi menjemput impiannya yang lain. Nasihat terakhir yang beliau berikan kepada anak-anak bimbingannya yang masih saya ingat adalah "jika kalian berdoa jangan lupa doakan orang lain, jangan egois, Tuhan sudah punya sesuatu yang baik buat kamu" tak hanya itu saja, nasihat beliau yang paling mengena di saya adalah "berapa lama waktu yang kalian berikan untuk Tuhan, adakah 1/4 dari waktu 24 jam yang Tuhan berikan ke kalian" itulah kalimat beliau yang sampai hari ini saya ingat.

Dan akhirnya kini semuanya berakhir manis, 8 November 2011 atau 12 Dzulhijah 1432 H, dua hari setelah Idul Adha saya menyelesai kan kuliah saya. Semua beban, rasa letih, letih dan semua rasa yang ada menguap menjadi sebuah perasaan lega. 

Tahun ini adalah Idul Fitri dan Idul Adha terindah bagi saya, dan satu resolusi yang saya buat diawal tahun telah terwujud, Terima kasih Allah